Sering terjadi di antara kita keinginan untuk mempengaruhi calon mitra
usaha, client bisnis atau orang lain yang kita punya hajat darinya, agar
rencana kita berhasil. Bermacam-macam cara dilakukan oleh manusia,
ada yang ke dukun, ada yang ke “orang pinter”. Tentu bagi seorang
muslim cara ini dilarang.
Sebenarnya mempengaruhi orang lain ada dua macam: ada yang baik
dan postif dan ada yang buruk dan negatif. Mempengaruhi orang lain
sebenarnya berada dalam dimensi psikologis dan juga kadang-kadang dalam dimensi logis. Kadang-kadang juga kedua-keduanya sejalan, dan
ada kalanya keduanya tidak sejalan. Ada yang hanya memfokuskan
pada dimensi logis, dan berusaha keras mempengaruhi orang lain
dengan cara ini, tapi tidak jarang mereka gagal mencapai tujuannya.
Ada juga yang memfokuskan pada dimensi psikologis dan berusaha
keras dengan cara ini, tapi juga gagal. Ada juga yang menggabung
keduanya dan berusaha keras tapi juga gagal.
Ada juga dengan cara lain, ini umumnya dilakukan muslimin, yaitu
dengan doa yang dipahami dengan keyakinan yang setengah hati.
Dengan cara ini juga gagal. Lalu apa sebenarnya rahasia sukses dan
gagal di balik semua ini?
Pada kesempatan ini saya tidak ingin membahasnya secara detail, insya
Allah pada kesempatan yang lain. Kita meyakini bahwa diri kita, potensi
di dalam diri kita memiliki kaitan yang erat dengan potensi orang lain,
juga dengan potensi dan bermacam unsur yang ada di luar diri kita
termasuk juga alam, maka di sini jelas kesuksesan dan kegagalan
berkait dengan semua itu, yang pada akhirnya berkait dan berujung
pada ilmu dan kehendak Allah swt.
Tentu kita harus meyakini bahwa ilmu dan kehendak Allah swt tidak
bersifat memaksa kita harus sukses atau gagal. Lalu dimanakah letak
variable utama sukes atau gagal? Untuk mengetahui rahasia ini kita
membutuhkan keyakinan yang kuat, dan merasakan langsung
kesuksesan atau kegagalan dari apa yang kita inginkan.
Tidak jarang di antara kita yang gagal sebelum melangkah dan
melakukan. Dalam dunia motivasi, baik di barat atau di kalangan
muslimin, menyatakan bahwa keyakinan menjadi kunci utama dalam
kesuksesan.
Contoh: ketika seseorang dihadapkan pada hanya dua pilihan yang
beresiko berat, misalnya di depannya ada jurang yang berbahaya dan di
belakangnya ada singa yang akan menerkamnya. Lalu dengan
keyakinan yang kuat ia melompat jurang itu dan selamat. Inilah yang
dalam motivasi disebut kerja “otak kanan”, dan di dalam Islam sebagai
pertolongan Allah swt yang istimewa saat manusia berada dalam kondisi
yang sangat terdesak dan full keyakinan.
Ala kulli hal, Allah swt telah mengkaruniakan pada manusia potensi
untuk menganalisa, dan potensi untuk merasakan. Allah swt telah
meletakkan potensi dan bermacam2 unsur di alam ini, semuanya
bekerja dan bergerak dengan sistem yang Allah swt buat dan tetapkan.
Yang satu dengan yang lain saling berkait, secara fisik dan non-fisik.
Dan manusia diberi kemampuan oleh-Nya untuk memilih. Doa adalah
salah satu penyebab yang merubah atau menggantikan sebab di dalam
sistem alam fisik dan non-fisik, yang dalam akidah dikenal dengan
takdir. Misalnya api yang secara hukum alam membakar, doa dapat mendatangkan penyebab lain untuk menggantikan posisi unsur
pembakar dengan unsur pendingin seperti kasus Nabi Ibrahim (as);
dalam dunia elektronik dengan hasil pikirannya manusia telah mampu
merubah penyebab panas dan dingin. Di sinilah letak perbedaan kerja
“otak kanan” dan “otak kiri”, atau hati dan pikiran.
Contoh yang lain: Pernah terjadi zaman Rasulullah saw. Matahari
hampir terbenam sementara karena lelahnya perjalanan dalam suatu
peperangan Rasulullah saw tertidur di pangkuan Imam Ali bin Abi Thalib
(sa) dan ia belum shalat Ashar. Beliau tidak mau mengganggu tidur
Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw terbangun beliau bertanya: Kamu
sudah shalat ashar? Beliau menjawab: Belum. Berkat doa Rasulullah
saw, matahari itu kembali ke awal waktu Ashar.
Dua kasus tersebut yakni kasus api di zaman Nabi Ibrahim (as) dan
kasus kembalinya matahari dimanakan mukjizat, yang pada hakikatnya
adalah doa mereka yang diijabah oleh Allah swt. Jadi, doa yang diijabah
dapat merubah sistem alamiah. Lalu apakah bisa hal yang hampir
serupa dengan dua kasus tersebut terjadi pada orang2 mukmin?
Adakah doa yang diajarkan oleh Islam untuk merubah sikap orang lain
agar hajat kita tercapai darinya? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu
pembuktian, dan coba praktekkan doa berikut ini dengan tata cara yang
telah ditentukan dan penuh keyakinan:
BismillahirRahmaniRahim
Allahumma shalli „ala Muhammad wa ali Muhammad
Wa lammâ dakhalû min haytsu amarahum abûhum mâ kâna yughnî
`anhum minallâhi min syay-in illâ hâjatan fî nafsi ya`qûba qadhâhâ, wa
innahû ladzû `ilmin limâ `allamnâhu wa lâkinna aktsaran nâsi lâ
ya`lamûn.
“Ketika mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka
(cara yang mereka lakukan itu) tidaklah melepaskan mereka sedikitpun
dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya`qub
yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai
pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 68).
Caranya: Sebelum Anda memasuki ruangan kantor atau rumah calon
client bisnis atau mitra bisnis atau orang yang kita punya hajat darinya,
bacalah ayat tersebut sebanyak 14 (empat belas) kali.

No comments:
Post a Comment